Home /
Seputar Jawa Barat
Seputar Jawa Barat
Kabupaten Purwakarta, akhirnya resmi memiliki pasar induk. Pasar induk ini berada di Desa Cikopo, Kecamatan Bungursari, tepatnya sekitar 300 meter dari pintu Tol Cikopo.
Pasar tradisional modern ini digadang-gadang merupakan pusat niaga terbesar di Jawa Barat. Sebab, lahannya saja mencapai 30 hektare.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, mengatakan, pasar induk ini menampung hasil pertanian dari seluruh penjuru nusantara. Misalkan, hasil palawija dari Cirebon, Sukabumi, maka akan dijualbelikan di pasar induk ini.
"Pedagang di pasar induk itu, datang dari sejumlah wilayah, termasuk dari pedagang Pasar Caringin, Bandung," ujar Dedi, Selasa (15/12).
Dengan diresmikannya pasar induk modern ini, lanjut Dedi, diharapkan perekonomian masyarakat sekitar bisa terdongkrak. Bahkan, Dedi ingin pusat niaga ini bisa merekrut pengangguran di wilayahnya. Dengan begitu, masyarakat Purwakarta bisa ikut sejahtera dengan adanya pasar induk ini.
Menurut Dedi, pasar ini akan memermudah jalur distribusi sayuran dan buah-buahan. Lokasinya sangat dekat dengan Jakarta sebagai ibu kota, serta dekat pula dengan daerah-daerah sentra pertanian di Jabar dan Jateng.
Berdasarkan pantauan, meskipun baru diresmikan, pasar induk ini sudah diburu oleh calon pedagang. Bahkan, para pedagang ini sudah datang dengan barang dagangan masing-masing, seperti, cabai merah, kentang, labu siem, sampai duren.
#Berbagai Sumber
Seputar Jawa Barat

Pemerintah Kabupaten Purwakarta memberikan Anugerah Budaya kepada tiga tokoh budaya dari Jawa Barat. Ketiganya diberikan anugerah karena jasa-jasanya dalam menginspirasi masalah kebudayaan bagi masyarakat Sunda.
Tiga tokoh yang mendapat anugerah itu adalah HR Hidayat Suryalaga, Asep Sunandar Sunarya, dan Dede Amung Sutarya. Ketiga tokoh itu telah meninggal dunia.
Hidayat Suryalaga dikenal lewat buku karangannya Rawayan Jati, sedangkan Asep Sunandar dan Dede Amung Sutarya merupakan dalang.
Niza Suryalaga, generasi ketiga Budayawan Hidayat Suryalaga, mengaku sangat terharu saat menerima Anugerah Budaya ini. "Karena baru kali ini almarhum mendapatkan pengakuan sekaligus penghargaan dari pemerintah tempat almarhum dilahirkan," ujarnya dalam acara yang digelar di Bale Citra Resmi, Purwakarta, Rabu malam, 16 Desember 2015.
Niza mengisahkan, buku soal kebudayaan yang paling terakhir ditulis almarhum adalah Pupuh Nurhidayahan dan Saritilawahan Al-Qur'an. Dua buku yang terakhir ditulis almarhum Hidayat memakan waktu sampai 20 tahun.
"Buku Saritilawahan beliau itulah yang mewarnai religi keislaman Urang Sunda," Niza menjelaskan. Dan buku tersebut sangat digandrungi orang Sunda karena isinya sangat mudah dibaca dan dipahami serta menginspirasi sehingga sangat menyentuh setiap pembacanya.
Niza mengungkapkan bahwa almarhum sebelum mangkat menitipkan dua pesan yang harus dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari oleh keluarga turunannya, yakni saling menghargai dan menghormati serta kukuh menjaga budaya Sunda.
Niza menegaskan keluarganya diajarkan agar toleran kepada siapa saja dan dalam soal apa saja. Soal budaya Sunda, beliau mengingatkan pula bahwa keluarganya lahir di tanah Sunda dan harus meresapi apa yang diterangkan dalam Al-Quran.
"Bahwa manusia diciptakan berpasangan dan bersuku-suku. Dan satu lagi pesan beliau adalah jaga kesundaan kita dan jaga keislaman kita,” kata Niza.
Adapun Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam pesannya mengatakan Anugerah Budaya yang kali pertama digelar tersebut merupakan bentuk apresiasi, khususnya terhadap karya-karya besar almarhum Hidayat Suryalaga.
#Dari Berbagai Sumber